14.985 Kasus ISPA di Sambas, Kabut Asap Karhutla Jadi Alarm Serius Kesehatan Masyarakat

Sorotkita.com // Sambas, Kalbar — Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Barat kembali menjadi perhatian serius.

Di Kabupaten Sambas, Dinas Kesehatan mencatat 14.985 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara kumulatif hingga pekan ke-34 tahun 2026.

Data tersebut menjadi perhatian di tengah kondisi kualitas udara yang terdampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Namun, angka kumulatif ISPA tersebut tidak serta-merta berarti seluruh kasus disebabkan oleh kabut asap.

Meski demikian, peningkatan kasus yang berlangsung bersamaan dengan memburuknya kualitas udara menjadi indikator penting yang perlu mendapat perhatian pemerintah dan masyarakat.

PLH Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, Ponidi, sebelumnya menyampaikan bahwa paparan kabut asap dapat mengiritasi saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.

Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih antara lain anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang telah memiliki gangguan pernapasan.

Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara tidak sehat.

Apabila harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat diminta menggunakan masker secara konsisten dan menjaga asupan cairan.

Masyarakat yang mengalami keluhan seperti batuk, pilek, sesak napas atau gangguan pernapasan lainnya juga diimbau segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas maupun rumah sakit.

Bukan Sekadar Angka

Di balik angka 14.985 kasus, terdapat persoalan yang lebih besar: bagaimana memastikan masyarakat tetap terlindungi ketika kabut asap kembali memburuk?

Dinas Kesehatan Sambas disebut terus melakukan pemantauan perkembangan kasus dan menyiapkan fasilitas pelayanan kesehatan untuk menghadapi kemungkinan peningkatan pasien.

Data kesehatan juga menunjukkan bahwa pada pekan ke-34 terdapat 679 kasus baru, menjadi angka tertinggi selama periode pengamatan mingguan yang dilaporkan tersebut.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api.

Dampaknya juga menyentuh aspek kesehatan, pendidikan, aktivitas ekonomi, hingga kualitas hidup masyarakat.

Sebelumnya, kondisi asap di Sambas bahkan berdampak terhadap aktivitas pendidikan.

Pemerintah daerah sempat melakukan penyesuaian jam belajar sebagai langkah perlindungan terhadap peserta didik ketika kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat.

BPBD Kabupaten Sambas juga telah mendistribusikan 10.000 masker, dengan 9.500 masker disalurkan ke 19 kecamatan atau masing-masing 500 masker per kecamatan.

Pemerintah Harus Bergerak dari Hulu hingga Hilir

Persoalan karhutla tidak cukup diselesaikan ketika api sudah membesar. Pencegahan, pengawasan titik rawan, penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal, pemadaman dini, hingga perlindungan kesehatan masyarakat harus berjalan bersamaan.

Masyarakat tentu berharap penanganan karhutla tidak berhenti pada pembagian masker atau penanganan pasien ketika sudah mengalami gangguan kesehatan.

Api harus dipadamkan, sumber masalah harus ditelusuri, sementara masyarakat yang terdampak harus mendapatkan perlindungan maksimal.

Angka 14.985 kasus ISPA seharusnya menjadi alarm bagi seluruh pihak agar persoalan karhutla dan dampak asap tidak dianggap sebagai persoalan musiman yang selalu berulang setiap tahun.

Karena ketika asap semakin tebal, yang dipertaruhkan bukan hanya jarak pandang—tetapi juga kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Sorotkita.com — Informasi Cerdas, Sorotan Berkualitas.

Tim/Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *