Sorotkita.com // Jakarta — Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas erupsi dan memicu penyebaran abu vulkanik ke sejumlah wilayah.
Kondisi tersebut berdampak terhadap aktivitas penerbangan dan membuat otoritas terkait meningkatkan pemantauan terhadap ruang udara.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu, 6 September 2026, menyatakan terus melakukan pemantauan selama 24 jam terhadap perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau, termasuk dampaknya terhadap atmosfer, penerbangan, dan kondisi laut di sekitar Selat Sunda.
Berdasarkan analisis citra satelit BMKG pada Minggu pagi, terdapat dua klaster sebaran abu vulkanik yang teridentifikasi melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Pembaruan informasi penerbangan juga menunjukkan abu vulkanik bergerak pada ketinggian berbeda.
BMKG mencatat sebaran debu hingga sekitar 20.000 kaki bergerak ke arah timur, sementara pada ketinggian hingga 50.000 kaki terdapat pergerakan ke arah barat.
Dampaknya mulai dirasakan dunia penerbangan.
Bandara Soekarno-Hatta sempat ditutup sementara mulai pukul 01.30 WIB hingga 05.30 WIB berdasarkan NOTAM yang diterbitkan otoritas penerbangan akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Tidak hanya Jakarta, aktivitas penerbangan dari sejumlah daerah juga ikut terdampak.
Di Bandara Depati Amir Pangkalpinang, dua penerbangan menuju Bandara Soekarno-Hatta, yakni Super Air Jet IU 821 dan Citilink QG 973, dilaporkan dibatalkan akibat kondisi ruang udara dan dampak sebaran abu vulkanik.
Otoritas bandara mengingatkan bahwa kondisi penerbangan masih dapat berubah mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan informasi NOTAM terbaru.
Sementara itu, laporan terbaru juga menyebut sejumlah penerbangan di berbagai daerah mengalami pembatalan maupun penyesuaian jadwal akibat abu vulkanik.
BMKG menyatakan pemantauan terus dilakukan terhadap pergerakan abu vulkanik karena keberadaan material tersebut dapat mengganggu keselamatan penerbangan.
Masyarakat di wilayah terdampak juga diimbau memperhatikan informasi resmi dari pemerintah dan tidak mudah mempercayai maupun menyebarluaskan informasi atau video yang belum terverifikasi.
Yang perlu menjadi perhatian, aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak serta-merta berarti akan terjadi tsunami.
BMKG juga melakukan pemantauan terhadap kondisi muka laut dan menyampaikan perkembangan berdasarkan hasil pengamatan resmi.
Hingga Minggu, 6 September 2026, masyarakat diminta tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan, khususnya mereka yang berada di wilayah sekitar Selat Sunda maupun daerah yang terdampak sebaran abu vulkanik.
Informasi mengenai status gunung api, zona bahaya, maupun perkembangan erupsi sebaiknya merujuk pada informasi resmi Badan Geologi/PVMBG, BMKG, BNPB, serta otoritas penerbangan.
SorotKita.com — Informasi terkini, tetap terverifikasi.
(Tim/Red)







